Friday, 8 March 2013

Arab sebelum adanya islam

PEMBAHASAN
A.     ARAB SEBELUM ISLAM
Ketika Nabi Muhammad SAW. SAW. Lahir (570M), Makkah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal di antara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota dilalui jalur perdagangan yang ramai, menghubungkan Yaman di Selatan dan Syria di Utara. Dengan adanya Ka’bah ditengah kota, Makkah menjadi pusat keagamaan Arab. Ka’bah adalah tempat mereka berziarah. didalamnya terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama, hubal. Makkah kelihatan makmur dan kuat. Agama dan masyarakat Arab  ketika itu mencerminkan realitas kesukuan masyarakat jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi.
Biasanya, dalam membicarakan wilayah geografis yang didiami bangsa Arab sebelum Islam, orang membatasi pembicaraan hanya pada jazirah Arab, padahal bangsa Arab juga memang mendiami daerah-daerah di sekitar jazirah. Jazirah Arab memang merupakan kediaman mayoritas banga Arab kala itu. Jazirah Arab terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu bagian tengah dan bagian pesisir. Di sana tidak ada sungai yang mengalir tetap, yang ada hanya lembah-lembah berair dimusim hujan. Sebagian besar daerah jazirah adalah padang pasir Sahara yang terletak di tengah dan memiliki keadaan dan sifat yang berbeda- beda, karena itu bisa dibagi menjadi tiga bagian:[1]
1.   Sahara Langit memanjang 140 mil dari Utara ke selatan dan 180 mil dari Timur ke Barat,disebut juga Sahara Nufud. Oase dan mata air sangat jarang, tiupan angin sering kali menimbulkan kabut debu yang mengakibatkan daerah ini sukar ditempuh.
2. Sahara Selatan yang membentang menyambung Sahara Langit ke arah Timur sampai Selatan Persia. Hampir seluruhnya merupakan dataran keras, tandus, dan pasir bergelombang. Daerah ini juga disebut dengan al-Rub’al  Khali bagian yang sepi).
3. Sahara Harrat, Suatu daerah yang terdiri dari tanah liat yang berbatu hitam bagaikan terbakar. Gugusan batu-batu hitam menyebar dikeluasan Sahara ini, seluruhnya mencapai 29 buah.
Penduduk Sahara sangat sedikit terdiri dari suku-suku Badui yang mempunyai  gaya hidup pedesaan dan nomadik, berpindah kesuatu daerah ke daerah lain guna mencari air dan pandang rumput untuk binatang peliharaan mereka, kambing, dan onta.
Adapun daerah pesisir, bila dibandingkan dengan Sahara sangat kecil, bagaikan selembar pita yang mengelilingi jazirah. Penduduk sudah hidup menetap dengan mata pencaharian bertani dan berniaga. Karena itu, mereka sempat membina berbagai macam budaya, bahkan kerajaan.
Bila dilihat dari asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu Qathaniyun (keturunan Qahtan) dan ‘Adnaniyun (keturunan Ismail bin Ibrahim). Pada mulanya wilayah Utara diduduki golongan Adnaniyun, dan wilayah Selatan didiami golongan Qathaniyun. Akan tetapi, lama kelamaan kedua golongan itu membaur karena perpindahan-perpindahan dari Utara ke Selatan atau sebaliknya.
Masyarakat, baik nomadik maupun yang menetap, hidup dalam budaya kesukuan Badui. Organisasi dan identitas sosial berakar pada keanggotaan dalam suatu rentang komunitas yang luas. Kelompok beberapa keluarga membentuk kabilah (clan). Beberapa kelompok kabilah membentuk suku (tribe) dan dipimpin oleh seorang syaikh. Mereka sangat menekankan hubungan kesukuan, sehingga kesetiaan solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah atau suku.
Mereka suka berperang. Karena itu, peperangan antar suku sering sekali terjadi. Sikap ini tampaknya telah menjadi tabiat yang mendarah daging dalm diri orang Arab. Dalam masyarakat yang suka berperang tersebut, nilai wanita menjadi sangat rendah. Situasi seperti ini terus berlangsung sampai agama Islam lahir. Dunia Arab ketika itu merupakan kancah peperangan terus menerus.
 Pada sisi yang lain, meskipun masyarakat Badui mempunyai pemimpin, namun mereka hanya tunduk kepada syaikh atau amir ( ketua kabilah ) itu dalam hal yang berkaitan dengan peperangan, pembagian harta rampasan dan pertempuran tertentu. Diluar itu, syaikh atau amir tidak kuasa mengatur anggota kabilahnya.
Akibat peperangan yang terus menerus, kebudayaan mereka tidak berkembang. Karena itu, bahan-bahan sejarah Arab pra Islam sangat langka didapatkan di dunia Arab dan dalam bahasa Arab. Ahmad Syalabi menyebutkan, sejarah mereka hanya dapat diketahui dari masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya agama Islam.[2] Pengetahuan itu diperoleh melalui syair-syair yang beredar di kalangan para perawi syair. Dengan begitulah sejarah dan sifat masyarakat Badui Arab dapat diketahui, antara lain, bersemangat tinggi dalam mencari nafkah, sabar menghadapi kekerasan alam, dan juga dikenal sebagai masyarakat yang cinta kebebasan.
Dengan kondisi alami seperti tidak pernah berubah itu, masyarakat Badui pada dasarnya tetap berada dalam fitrahnya. Kemurniannya terjaga, jauh lebih murni dari bangsa-bangsa lain. Dasar-dasar kehidupan mereka mungkin dapat disejarkan dengan bagsa-bangsa yang masih berada dalam tahap permulaan perkembangan budaya. Bedanya dengan bangsa lain, hampir seluruh masyarakat Badui adalah penyair.[3]
Lain halnya dengan penduduk negeri yag telah berbudaya dan mendiami pesisir jazirah Arab, sejarah mereka dapat diketahui lebih jelas. Mereka selalu mengalami perubahan sesuai dengan perubahan situasi dan kondisi yang mengitarinya. Mereka mampu membuat alat-alat dari besi, bahkan mendirikan kerajaan-kerajaan. Sampai kehadiran Nabi Muhammad SAW. SAW., kota-kota mereka masih merupakan kota-kota perniagaan dan memang jazirah Arab ketika itu merupakan daerah yang terletak pada jalur perdagangan yang menghubungkan antara Syam dan Samudra India. Sebagaimana masyarakat Badui, penduduk negeri ini juga mahir mengubah syair. Biasanya, syair-syair itu dibacakan di pasar-pasar, mungkin semacam pagelaran pembacaan syair, pembacaan syair seperti di pasar   ‘ ukaz’. Bahasa mereka kaya dengan ugkapan, tata bahasa dan kiasan.
Melihat bahasa dari hubungan dagang bangsa Arab, Leboun berkesimpulan, tidak mungkin bangsa Arab tidak pernah memiliki peradaban yang tinggi, apalagi hubungan dagang itu berlangsung selama 2000 tahun. Ia yakin, bangsa Arab ikut memberi saham dalam peradaban dunia, sebelum mereka bangkit kembali pada masa Islam. Golongan Qathaniyun, misalnya pernah mendirikan kerajaan Saba’ inilah yang membangun bendungan Ma’arib, sebuah bendungan raksasa yang menjadi sumber air untuk seluruh wilayah kerajaan. Pada masa kejayaanya, kemajuan kerajaan Saba’ dibidang kebudayaan dan beradaban, dapat dibandingkan dengan kota-kota dunia lain saat itu. Bekas-bekas kerajaan ini sekarang masih terbenam dalam timbunan tanah.[4] Pada masa pemerintahan Saba’, bangsa Arab menjadi penghubung perdagangan antara Eropa dan dunia Timur Jauh.
 Setelah kerajaan mengalami kemunduran, muncul kerajaan Himyar menggantikannya. Kerajaan baru ini terkenal dengan kekuatan armada niaga yang menjelajah mengarungi India, Cina, Somalia, dan Sumatra ke pelabuhan-pelabuhan Yaman. Perniagaan ketika itu dapat dikatakan dimonopoli Himyar.[5]
 Terutama setelah bendungan Ma’arib runtuh, masa gemilang kerajaan Himyar sedikit-sedikit memudar. Banyak bangunan roboh dibawa air dan sebagian besar penduduk mengungsi ke bagian Utara jazirah. Meskipun demikian, karena daerahnya berada pada jalur perdagangan yang strategis dan tanahnya subur, daerah ini tetap menjadi incaran kerajaan besar Romawi dan Persia yang selalu bersaing untuk menguasainya.
Di sebelah Utara jazirah juga sudah pernah berdiri kerajaan-kerajaan. Tetapi, kerajaan-kerajaan tersebut lebih merupakan kerajaan protektorat. Ini terjadi karena kafilah-kafilah Romawi dan Persia selalu mendapat gangguan dari suku-suku Arab yang memeras dan merampoknya. Untuk melindungi kafilah-kafilah itu, atas inisiatif kerajaan besar tersebut didirikanlah kerajaan Hirah di bawah perlindungan Persia dan kerajaan Ghassan di bawah perlindungan Romawi.[6] Kedua kerajaan ini berkembang dalam waktu yang hampir bersamaan, yaitu kira-kira  abad ke-3 sampai abad kedatangan Islam. Raja-raja yang berkuasa umumnya berasal dari keturunan Arab Yaman.
Bagian lain dari daerah Arab yang sama sekali tidak pernah dijajah sama bangsa lain, baik karena sulit dijangkau maupun karena tandus dan miskin, adalah Hijaz. Kota terpenting di daerah ini adalah Makkah, kota suci tempat Ka’bah berdiri. Pada masa itu bukan saja disucikan dan dikunjungi oleh penganut-penganut agama asli Makkah, tetapi juga, oleh orang-orang yang bermukim disekitarnya.
Untuk mengamankan para pejiarah yag datang ke kota itu didirikanlah suatu pemerintahan yang pada mulanya berada ditangan dua suku yang berkuasa, yaitu Jurhum sebagai pemegang kekuasaan politik dan Ismail (keturunan Nabi Ibrahim), sebagai pemegang kerkuasaan atas ka’bah. Kekuasaan politik kemudian berpindah ke suku khuza’ah dan akhirnya ke suku Quraisy di bawah pimpinan Qusai. Suku terakhir inilah yang kemudian mengatur urusan-urusan politik dan urusan-urusan yang berhubungan dengan Ka’bah.
Semenjak itu, suku Quraisy menjadi suku yang mendominasi masyarakat Arab. Adapun 10 jabatan tinggi yang dibagi-bagikan kepada kabilah-kabilah asal suku Quraisy, yaitu hijabah, penjaga kunci-kunci Ka’bah; siqayah, pengawas mata air zam-zam untuk dipergunakan oleh para peziarah; diat, kekuasaan hakim sipil dan kriminal; sifarah, kuasa usaha negara atau duta; liwa’, jabatan ketentaraan; rifadah, pengurus pajak untuk orang miskin; nadwah, jabatan ketua dewan; khaimmah, pengurus balai musyawarah; khazinah, jabatan administrasi keuangan dan keuangan; dan azlam, penjaga panah peramal untuk mengetahui pendapat dewa-dewa. Dalam pada itu, sudah menjadi kebiasaan bahwa anggota yang tertua mempunyai pengaruh paling besar dan memakai gelar rais.[7]
Setelah  kerajaan Himyar jatuh, jalur-jalur perdagangan didominasi oleh kerajaan Romawi dan Persia. Pusat perdagangan bangsa Arab serentak kemudian beralih ke daerah Hija. Makkah pun menjadi mashyur dan disegani. Begitu pula suku Quraisy  kondisi ini membawa dampak positif bagi mereka, perdagangan menjadi maju akan tetapi, kemajuan Makkah tidaklah sebanding dengan kemajuan yang pernah dicapai kerajaan-kerajaan Arab sebelumnya meskipun demikian, dengan Makkah menjadi pusat peradapan bangsa Arab bagaikan memulai babak baru dalam hal kebudayaan dan peradaban.
Jadi, apa yang berkembang menjelang kebangkitan Islam itu merupakan pengaruh dari kebudayaan dan peradaban Arab pengaruh tersebut masuk ke Jazirah Arab melalui beberapa jalur; yang terpenting diantaranya:
1.      melalui hubungan dagang dengan bangsa lain,
2.      melalui kerajaan-kerajaan protektorat, Hirah dan Ghassan dan
3.      masuknya misi yahudi dan kristen.[8]
Melalui jalur perdagangan, bangsa Arab berhubungan bangsa-bangsa Syria, Persia, Habsyi, Mesir (Qibthi), dan Romawi yang semua telah mendapat pengaruh dari kebudayaan Hellenisme. Melalui kerajaan-kerajaan protektorat, banyak berdiri koloni-koloni tawanan perang Romawi dan Persia di Ghassan dan Hirrah. Penganut agama Yahudi juga banyak mendirikan koloni di Jazirah Arab, yang terpenting caranya yatsrib. Penduduk koloni ini terdiri dari orang-orang Yahudi dan orang-orang yang menganut agama Yahudi.
Mayoritas penganut agama Yahudi tersebut pandai bercocok tanam dan pandai membuat alat dari besi, seperti perhiasan dan persenjataan. Sama dengan penganut agama Yahudi, orang-orang kristen juga mendapat pengaruh dari keudayaan hellinisme dan pemikiran  Yunani aliran kristen yang masuk ke Jazirah Arab ialah aliran Nestorian di Hirah aliran Jacob-Barady di Ghassan. Daerah kristen yang terpenting adalah Najran, sebuah daerah yang subur penganut agama kristen tersebut berhubungan dengan Habasyah (Ethiopia),negara yang melindungi agama ini.penganut aliran nestorianlah yang bertindak sebagai penghubung antara kebudayaan Yunani dan kebudayaan Arab pada masa awal kebangkitan Islam
Walaupun agama Yahudi dan Kristen sudah masuk ke jazirah Arab, bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka, yaitu percaya banyak dewa yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan patung setiap kabilah mempunyai berhala sendiri. Berhala-berhala yang tersebut dipusatkan di Ka’bah, meskipun di tempat-tempat lain juga ada. Berhala-berhala yang terpenting adalah Hubal, yang di anggap sebagai dewa terbesar, terletak di Ka’bah; Lata, dewa tertua, terletak di Thaif; Uzza,bertempat  di Hijaz, kedudukanya berada di bawah Hubal dan manat yang bertempat di Yasrib. Berhala-berhala itu mereka jadikan tempat menanyakan dan mengetahui nasib baik dan nasib buruk. Demikianlah keadaan bangsa dan Jazirah Arab menjelang kebangkitan Islam.

0 komentar: