Sunday, 21 April 2013

ma'rifah



MA’RIFAH
1.    Pengertian
Istilah ma’rifah berasal dari kata “Al-Ma’rifah”, yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan pengalaman Tasawuf, maka istilah ma’rifah disini berarti mengenal Allah ketika Sufi mencapai suatu maqam dalam Tasawuf.
            Kemudian istilah ini dirumuskan salah satu pendapat ulama tsawuf yang mengatakan:
a.       Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama Tasawuf yang mengatakan: “Marifah adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya.”
b.      Asy-Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Kadiriy mengemukakan pendapat Abuth Thayyib As-Samiry yang mengakatan: “Marifah adalah hadirnya kebenaran Allah (pada sufi)...dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan Nur Ilahi…”
c.       Imam Al-Qusyairy mengemukakan pendapat Abdur Rahman bin
Muhammad bin Abdillah yang mengatakan: “Marifah membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana imu pengetahuan membuat ketenangan (dalam akar pikiran). Barang siapa yang meningkat marifahnya, maka meningkat pula ketenangan (hatinya).”
Tidak semua orang yang menuntut ajaran Tasawuf dapat sampai kepada tingkatan ma’rifah. Karena itu, Sufi yang sudah mendapatkan kepada tingkatan ma’rifah memiliki tanda-tanda tertentu, sebagaimana keterangan Dzun Nun Al-Mishri yang mengatakan: ada beberapa tanda yang dimiliki oleh Sufi bila sudah sampai kepada tingkatan ma’rifah, antara lain:
a.       Selalu memancar cahaya ma’rifah padanya dalam segala sikap dan perilakunya, karena itu, sikap wara’ selalu ada pada dirinya.
b.      Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta yang bersikap nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf, belum tentu benar.
c.       Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena hal itu bisa membawanya kepada perbuatan yang haram.
Dari sinilah kita dapat melihat bahwa seorang Sufi tidak membutuhkan kehidupan yang mewah, kecuali tingkatan kehidupan yang hanya sekedar dapat menunjang kegioatan ibadahnya kepada Allah SWT. sehingga Asy Syekh Muhammad bin Al-fadhal mengatakan bahwa ma’rifah yang dimiliki  Sufi, cukup dapat memberikan kebahagiaan batin padanya karena merasa selalu bersama-sama dengan Tuhannya.
Begitu rapatnya posisi hamba dengan Tuhannya ketika pencapai tingkat ma’rifah, maka ada beberapa ulama yang melukiskannya sebagai berikut:
a.       Imam Rawin mengatakan, Sufi yang sudah mencapai tingkatan ma’rifah, bagaikan ia berada dimuka cermin; bila ia memandangnya, pasti ia melihat lagi dirinya dalam cermin, karena ia sudah larut (hulul) dalam Tuhannya. Maka tiada lain yang dilihatnya dalam Tuhannya. Maka tiada lain yang dilihatnya dalam cermin, kecuali hanya Allah SWT saja.
b.      Al-Junaid Al-Baghdadiy mengatakan, Sufi yang sudah mencapaitingkatan ma’rifah, bagaikan sifat air dalam gelas,yang selalu menyerupai warna gelasnya. Maksudnya, Sufi yang sudah larut (hulul) dalam Tuhannya selalu menyerupai sifat-sifat dan kehendaknya. Lalu dikatakannya lagi bahwa seorang Sufi, selalu merasa menyesal dan tertimpa musibah bila suatu ketika ingatan kepada Allah terputus, meskipun hanya sekejap mata saja.
c.       Sahal bin Abdillah mengatakan, sebenarnya puncak ma’rifah itu adalah keadaan yang diliputi rasa kekaguman dan keheranan ketika Sufi bertatapan dengan Tuhannya, sehingga keadaaan itu membawa kepada kelupaan dirinya.
Keempat tahapan yang harus dilalui oleh Sufi ketika menekuni ajaran Tasawuf, harus dilaluinya secara berueutan; mulai dari Syariat, Tarikat, Hakikat dan Ma’rifah. Tidak mungkin dapat ditempuh secara terbalik dan tidak pula secara terputus-putus.
Dengan cara menempuh tahapan Tasawuf yang berurutan ini, seorang hamba tidak akan mengalami kegagalan dan tidak pula mengalami kesesatan.

0 komentar: