Sunday, 21 April 2013

penutup



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Mahabbah artinya cinta. Hal ini mengandung maksud cinta kepada Allah. Dalam ajaran Tasawuf  Mahabbah dikaitkan dengan ajaran yang disampaikan oleh seorang Sufi wanita bernama Rabiah Al-‘Adawiah. Mahabbah adalah paham Tasawuf yang menekankan perasaan cinta kepada Tuhan.
Aliran Sufi Mahabbah dipelopori dan dikembangkan oleh seorang Sufi wanita bernama Rabiah Al-‘Adawiah. Ia lahir di Basrah pada tahun 714 M. Kelahirannya diliputi bermacam cerita aneh-aneh.
Istilah ma’rifah berasal dari kata “Al-Ma’rifa”, yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan pengalaman Tasawuf, maka istilah ma’rifah disini berarti mengenal Allah ketika Sufi mencapai suatu maqam dalam Tasawuf.
Tidak semua orang yang menuntut ajaran Tasawuf dapat sampai kepada tingkatan ma’rifah. Karena itu, Sufi yang sudah mendapatkan kepada tingkatan ma’rifah memiliki tanda-tanda tertentu, sebagaimana keterangan Dzun Nun Al-Mishri yang mengatakan: ada beberapa tanda yang dimiliki oleh Sufi bila sudah sampai kepada tingkatan ma’rifah, antara lain:
a.       Selalu memancar cahaya ma’rifah padanya dalam segala sikap dan perilakunya, karena itu, sikap wara’ selalu ada pada dirinya.
b.      Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta yang bersikap nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf, belum tentu benar.
c.       Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena hal itu bisa membawanya kepada perbuatan yang haram.
Kaum Sufi untuk mendapatkan suaru marifah melalui jalan yang ditempuh dengan mempergunakan suatu alat diantaranya:
a. Sir
b. Menurut Al-Qusyairi ada tiga yaitu:
1. Qalb fungsinya untuk dapat mengetahui sifat Tuhan.
2.  Ruh fungsinya untuk dapat mencintai Tuhan.
3. Sir fungsinya untuk melihat Tuhan.

0 komentar: